Sepucuk surat untuk Laras

Jika kau sudah menerima surat ini, itu artinya, tubuhku sudah terpental jauh oleh kereta, yang membuatku cukup tergesa-gesa. Kau pun tahu, aku benci menjadi manusia, yang saling berebut tempat pijakan, hingga tak peduli bila harus menginjak atau menahan sakit bila terinjak. Atau menjadi manusia yang saling berebut pengakuan; siapa yang lebih dulu menjadi dirinya sendiri. Tapi hari ini aku menjadi manusia, yang saling berebut langkah, berlomba-lomba menuju tempat yang bahkan berbeda arah.

Aku menulis surat ini, setelah hujan di kota kita reda.
Sebab ketika di pos jaga milik warga–di bawah lampu remang, bias penglihatanku mengawang. Bersama dingin, dan keriput di jemari yang tak tenang. Tak lama si pemilik tempat datang, lengkap dengan seragam hijau yang ia balut menggunakan ponco–agar kehormatannya tak ternodai. Kau tahu, seragam lebih terhormat dari kehormatan mana pun. Aku yang tak menggunakan seragam, tak boleh melawan. Maka ketika dia memukul temboknya yang terbuat dari kayu, secepat mungkin aku mengerti, dia tak suka kehadiranku.

Malam itu, aku memilih melawan hujan.

Tapi jauh sebelum aku memutuskan menulis surat untukmu, aku bertemu dengan seorang ibu paruh baya, berjalan, sambil menggendong keranjang rotan, berisi botol-botol kaca berisikan jamu. Tak jauh, di pelataran toko yang lama telah tutup usia. Ia memutuskan untuk duduk sembari menyapu lelah dari keningnya, bibirnya yang kering pun, berkata resah. “Kamu kenapa mati duluan sih, maaasss? aku jadi susah gini, toh!” Hari itu aku mengerti, bagi si mbok jamu, tak ada yang benar-benar hilang, yang ada hanya dipindahkan. Tak ada yang ada telinga yang diredam oleh tanah, yang ada hanya telinga yang mendengar lebih leluasa.

Dan ketika kau menerima surat ini, itu artinya, aku sudah melewati makian bapak-bapak, yang ketika kutitipkan surat untukmu di antrean, di kantor pos. Hanya untuk mengabulkan harapanmu, menerima surat di tengah perkembangan teknologi yang menggila, dari kekasihmu.

Tertanda,
Kekasihmu. * “Itu isi surat yang tertuju untukmu, Ras. Kuterima pagi tadi, sebelum aku bergegas menuju stasiun kereta.” Kataku, sembari menatap keluar jendela kereta.

Kembali Asing

“Aku tersenyum ketika tanpa sengaja segalamu melintas di kepalaku, betapa bahagianya kita dulu. Saling berkirim pesan, dan bahkan, tak jarang kita jalan-jalan menghabiskan waktu tanpa tujuan hanya sekedar menikmati jingga di langit senja.

Waktu itu aku mengira bahwa selamanya kita akan baik-baik saja. Tanpa ragu, dengan sembongnya aku berpikir kita akan tetap menjadi kita sepanjang usia.

Namun pagi membangunkanku dari mimpi panjang semalam. Kau benar-benar nyata pergi. Kau sudah bukan milikku. Kita benar-benar kembali menjalani hari sendiri-sendiri lagi, seperti awal mula ketika aku dan kamu masih bukan siapa-siapa”,