Featured

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini.

pos

Iklan

Pemeluk sepi

Ketika kau putuskan berlalu, tentu ini menjadi hal berat untukku. Sesak dadaku membayangkan hari-hari semenjak pergimu. Aku seperti dihantam runcing tombak yang menancap dalam dadaku, untuk bernapas saja aku jengah dan ingin menyerah.

Ditinggalkan tanpa aba-aba seperti disuguhkan peledak di depan mata. Aku menganga masih enggan percaya, ternyata kebersamaan kita tak pernah ada artinya. Sia-sia segalaku yang kupersembahkan untukmu, sia-sia kecapan bibirku melafalkan namamu. Kau memilih tuli dalam mendengar suaraku, memilih bisu untuk menyebut namaku.
Tentu berat bagi seseorang yang begitu dalam menaruh harap, kala harapan-harapan yang melambung tinggi dipaksa jatuh. Sebab ternyata sayap yang kau janjinkan untuk membawaku terbang tak pernah ada. Aku terlanjur percaya, bahkan pada segala dusta yang kaugumamkan dengan tega.

Setelah pergimu, aku yang meringkuk dipaksa tegak oleh permainan waktu. Ditarik dan dengan tertatih berdiri. Aku memaksa kaki melangkah, jalan perlahan meninggalkan masa lalu.
Seharusnya mudah bagimu setelah meninggalkanku. Kau bebas memilih tanpa melibatkan aku. Kau bebas berkelana mengetuk pintu hati para wanita dan singgah sebentar di sana. Seharusnya mudah bagimu menjalankan hari-hari yang kaubentuk penuh permainan dan dengan angkuh kau menangkan, kau ingin lepas, dan sudah kulepaskan.

Tapi mengapa kau datang seolah aku akan baik-baik saja dan dengan lugu menerimamu kembali? Seharusnya mudah bagimu setelah kau putuskan berlalu, tapi mengapa kau hadir lagi seolah tak pernah ada luka yang kaugores dalam dadaku?
Meski lukaku mengering dengan waktu yang menggiring, bukan berarti kau bisa datang dan kembali menetap. Padamu sudah mati seluruh rasaku. Bahkan sekedar membencimu aku tidak ada waktu.
Seharusnya mudah bagimu…

Sepucuk surat untuk Laras

Jika kau sudah menerima surat ini, itu artinya, tubuhku sudah terpental jauh oleh kereta, yang membuatku cukup tergesa-gesa. Kau pun tahu, aku benci menjadi manusia, yang saling berebut tempat pijakan, hingga tak peduli bila harus menginjak atau menahan sakit bila terinjak. Atau menjadi manusia yang saling berebut pengakuan; siapa yang lebih dulu menjadi dirinya sendiri. Tapi hari ini aku menjadi manusia, yang saling berebut langkah, berlomba-lomba menuju tempat yang bahkan berbeda arah.

Aku menulis surat ini, setelah hujan di kota kita reda.
Sebab ketika di pos jaga milik warga–di bawah lampu remang, bias penglihatanku mengawang. Bersama dingin, dan keriput di jemari yang tak tenang. Tak lama si pemilik tempat datang, lengkap dengan seragam hijau yang ia balut menggunakan ponco–agar kehormatannya tak ternodai. Kau tahu, seragam lebih terhormat dari kehormatan mana pun. Aku yang tak menggunakan seragam, tak boleh melawan. Maka ketika dia memukul temboknya yang terbuat dari kayu, secepat mungkin aku mengerti, dia tak suka kehadiranku.

Malam itu, aku memilih melawan hujan.

Tapi jauh sebelum aku memutuskan menulis surat untukmu, aku bertemu dengan seorang ibu paruh baya, berjalan, sambil menggendong keranjang rotan, berisi botol-botol kaca berisikan jamu. Tak jauh, di pelataran toko yang lama telah tutup usia. Ia memutuskan untuk duduk sembari menyapu lelah dari keningnya, bibirnya yang kering pun, berkata resah. “Kamu kenapa mati duluan sih, maaasss? aku jadi susah gini, toh!” Hari itu aku mengerti, bagi si mbok jamu, tak ada yang benar-benar hilang, yang ada hanya dipindahkan. Tak ada yang ada telinga yang diredam oleh tanah, yang ada hanya telinga yang mendengar lebih leluasa.

Dan ketika kau menerima surat ini, itu artinya, aku sudah melewati makian bapak-bapak, yang ketika kutitipkan surat untukmu di antrean, di kantor pos. Hanya untuk mengabulkan harapanmu, menerima surat di tengah perkembangan teknologi yang menggila, dari kekasihmu.

Tertanda,
Kekasihmu. * “Itu isi surat yang tertuju untukmu, Ras. Kuterima pagi tadi, sebelum aku bergegas menuju stasiun kereta.” Kataku, sembari menatap keluar jendela kereta.

Kembali Asing

“Aku tersenyum ketika tanpa sengaja segalamu melintas di kepalaku, betapa bahagianya kita dulu. Saling berkirim pesan, dan bahkan, tak jarang kita jalan-jalan menghabiskan waktu tanpa tujuan hanya sekedar menikmati jingga di langit senja.

Waktu itu aku mengira bahwa selamanya kita akan baik-baik saja. Tanpa ragu, dengan sembongnya aku berpikir kita akan tetap menjadi kita sepanjang usia.

Namun pagi membangunkanku dari mimpi panjang semalam. Kau benar-benar nyata pergi. Kau sudah bukan milikku. Kita benar-benar kembali menjalani hari sendiri-sendiri lagi, seperti awal mula ketika aku dan kamu masih bukan siapa-siapa”,

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai